Ini adalah cerita perjalanan pada saat minggu terakhir harus ada berada di Bandung tahun 2008. Perjalanan ke Ciwidey. Kenapa ke Ciwidey, tentu banyak alasan selain disana banyak objek dan view yang bisa di abadikan dengan kamera murah meriah Nikon D40 milik saya.
Perjalanan dimulai jam 4 pagi bersama Eddy. Mengendarai motor masing-masing, saya naik si Thunder Biru, sedangkan Eddy mengendarai motor bebeknya yang setia. Badan cuma berbalutkan jaket kain tebal, satu-satunya jaket yang masih tersisa di kamar. Maka dimulailah perjalanan panjang selama 2 jam ke Ciwidey. Dingiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiin.
Jam 06.00 (dengan galat tentunya) maka sampailah di Ciwidey. Momen yang menarik saat disana adalah kami disambut Bulan besar yang masih berada diketinggian. Sayang momen ini tidak terekam.
{Tebing Ciwidey}
Berikut adalah rekaman gambar ketika berada diketingiian salah satu tebing di Ciwidey.
Hm…..foto yang hangat untuk dilihat, walaupun saat foto ini diambil, mulut kami selalu mengeluarkan uap karena dinginnya hawa sekitarnya.
Foto di atas masih diambil pada lokasi yang sama dengan angle yang berbeda, foto yang membuktikan bawah Bandung adalah bekas danau besar. Masih perlu kehangatan matahari Ciwidey? Bisa merasakan hangatnya matahari, sejuknya udara dan tenangnya suasana Ciwidey dari foto di bawah ini.
{Kawah Putih}
Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke kawah putih. Tepat jam 07.00 kami berada disana. Makan indomie rebus dan minum teh panas dulu untuk menghangatkan badan. Sebaiknya bersegeralah makan dan minum selagi panas, karena sebentar saja akan menjadi dingin.
Tidak lama kami berada disini.
{Situ Patenggan}
Lokasi ini berjarak sekitar 5km dari kami berada. Nama Situ Patenggan adalah nama yang sering didengar. Tapi sebenarnya adalah “Situ Patengan”. Situ adalah bahasa sunda yang berarti danau. Sedangakan Patengan berasal dari kata pateang-teang atau saling mencari. Dan Patenggan juga tidak muncul begitu saja, tapi mempunyai arti terpisah oleh jarak atau kondisi. Dan kedua nama tersebut tetap selalu digunakan.
Siapa yang saling mencari? Siapa yang berpisah? Berikut sejarahnya (ayo duduk yang manis dan tangan dimeja).
“Kawasan ini memiliki sebuah legenda sehingga muncul nama Situ Patenggang. Sejarah atau mitos tentang situ ini muncul disebabkan karena seorang pangeran dan seorang putri yang saling jatuh cinta, namun perjalanan cinta mereka tidak semulus dan seindah yang dibayangkan oleh keduanya karena dipisahkan oleh keadaan. Sehingga air mata mereka membentuk sebuh situ atau danau. Selanjutnya, danau itu dinamai Situ Patenggang. Pada akhirnya mereka dapat berkumpul kembali pada sebuah batu di situ tersebut, yang diberi nama Batu cinta. Konon siapapun yang pernah berkunjung dengan pasangannya, maka cinta mereka akan abadi“
Danau yang tenang, pulau di tengah danau yang ditumbuhi pohon-pohon yang tinggi….hmm…..tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi.
Diseberang adalah Pulau Cinta, kita dapat mengunjunginya dengan menaiki boat sewaat kesana atau hanya untuk berkeliling mengitari danau dan pulau.
{What Next?}
Setelah ini akan kemana lagi kaki akan berjalan untuk membawa sang mata dan kamera untuk memandang?
dengan hormat apakah saya bisa memuat foto anda di web site kami